Anak · Artikel · Pendidikan

Cara Mendidik Anak tanpa Kekerasan

Mendidik anak memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Terkadang orang tua lupa dan emosi terhadap anak. Memukul anak hanya mengajarkan lebih banyak kekerasan yang merisaukan masyarakat. Riset ini menunjukkan, bahwa anak-anak yang dipukul lebih rentan terkena Stress (Depresi). Orang tua yang baik harus memikirkan cara mendidik anak tanpa kekerasan yang memberiikan manfaat bagi anak maupun orang tua.

stop kekerasan terhadap anak
stop kekerasan terhadap anak

Demi masa depan anak-anak kita, berikut adalah cara mendidik anak tanpa kekerasan yang dapat diterapkan oleh orang tua ketimbang memukul:

1. Tenangkan Diri
Jika merasa marah, emosi tak terkendali dan kita ingin memukul anak kita, tinggalkan situasi ini jika memungkinkan. Tenangkan diri dan hening. Ditengah keheningan ini, kita sering akan menemukan alternatif solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.

2. Cari Waktu Untuk Diri Sendiri
Orangtua lebih rentan memukul jika tak punya waktu untuk diri sendiri, merasa terburu-buru dan kehabisan energi. Jadi, penting bagi orangtua untuk menggunakan sedikit waktu untuk diri sendiri, misal : olahraga, membaca atau jalan-jalan santai dll

3. Gunakan Tindakan Baik Tapi Tegas
Situasi frustasi yang membuat orangtua cenderung memukul adalah ketika anak tak mau mendengarkan walaupun kita sudah berkali-kali memintanya. Akhirnya, kita tak sabar dan memukul anak kita dengan tujuan agar anak kita berperilaku yang tepat. Solusi lain untuk situasi seperti ini adalah, sejajarkan sikap tubuh kita dengan anak kita (dengan menekuk aki misalnya atau berjongkok), buat kontak mata, sentuh anak secara lembut dan katakan kepadanya dengan ungkapan baik tapi tegas apa yang kita inginkan dari anak kita lakukan. Sebagai contoh : “Ayah/bunda minta kamu bermain secara tenang ya…Ayah/Bunda sedang bekerja!”. Bersikap baik tapi tegas merupakan salah satu cara mendidik anak tanpa kekerasan.

4. Beri Pilihan
Memberi anak pilihan termasuk alternatif yang baik ketimbang memukul. Jika anak kita memainkan makanan di meja makan, tanyakan “Kamu lebih suka berhenti bermain dengan makanan atau lebih suka tinggalkan meja makan?” Jika anak masih terus bermain dengan makanan, gunakan tindakan tegas tapi baik dengan membantu anak turun dari kursi dan meninggalkan meja. Katakan kepadanya, dia bisa kembali ke meja jika sudah siap makan tanpa memainkan makanan.

5. Gunakan Logika Konsekuensi
Konsekuensi secara logika terkait dengan perilaku yang membantu mengajari anak tanggung jawab. Sebagai contoh, anak kita memecahkan kaca jendela tetangga dan kita menghukumnya dengan memukulnya. Apa yang anak kita pelajari dari situasi ini? Dia mungkin belajar tak akan melakukan hal ini lagi, tapi dia juga belajar, bahwa dia harus menyembunyikan kesalahan-kesalahannya, menyalahkan orang lain, berbohong atau hanya berusaha agar tidak ketahuan. Dia mungkin juga memutuskan, bahwa dia buruk atau merasa marah dan balas dendam pada orangtua yang memukulnya. Jika kita memukul untuk menghukumnya, tapi apakah kita ingin anak kita baik karena takut atau karena respek kepada kita?

6. Melakukan Perbaikan
Jika anak melanggar kesepakatan, orangtua cenderung ingin menghukumnya. Alternatif lainnya adalah, meminta anak memperbaiki diri. Memperbaiki diri adalah mengerjakan sesuatu dengan orang yang janjinya dilanggar anak. Sebagai contoh, beberapa anak menginap di rumah anton. Ayahnya meminta, mereka tak boleh meninggalkan rumah ditengah malam. Anak-anak itu melanggar perjanjian. Si ayah marah dan menghukum mereka dengan mengatakan, mereka tak boleh nginap lagi selama 2 bulan. Anton dan teman-temannya marah dan tidak kooperatif sebagai akibat dari hukuman ini. Si ayah menyadari apa yang dilakukannya. Ia minta maaf karena menghukum mereka dan bilang kepada mereka,ia merasa dikhianati dan mendiskusikan pentingnya memegang janji. Ia lalu meminta anak-anak itu melakukan perbaikan. Mereka memutuskan potong kayu yang harus dipotong ayahnya di halaman belakang. Anak-anak jadi senang dan antusias tentang proyek itu dan sesudah itu,berpegang pada janji untuk nginap lagi.

7. Tarik Diri Dari Konflik

Anak membantah orangtua dapat memicu orangtua memukul anak. Dalam situasi ini, akan paling baik jika kita segera menarik diri dari situasi ini. Jangan keluar dari kamar dalam keadaan marah.

8. Beritahu Anak Terlebih Dulu

Anak mengamuk dan menangis keras (temper tantrum) dapat dengan mudah membuat orangtua marah. Anak sering mengamuk jika mereka merasa tidak diberitahu atau tidak berdaya dalam sebuah situasi.
Agresi adalah bentuk kekerasan yang terus menerus ada dalam masyarakat. Bentuk yang lebih dari ini adalah memukul karena merusak self-esteem anak, melemahkan antusiasme dan menyebabkan anak memberontak dan tidak kooperatif. Pikirkan sesaat visi keluarga yang tahu cara memenangkan anak-anak kita secara kreatif tanpa menggunakan kekuatan atau kekerasan.

Kekerasan hanya akan membuat anak trauma dan masa depan anak pun dapat terancam. So, sebagai orang tua yang baik gunakanlah cara mendidik anak tanpa kekerasan dan ciptakan keluarga yang harmonis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s